Showing posts with label CERPEN 24 JAM. Show all posts
Showing posts with label CERPEN 24 JAM. Show all posts

Monday, November 2, 2015

Senasib Sepenanggungan

Senasib Sepenanggungan

“Oh ternyata kamu seperti itu ya selama ini.”
“Maksud kamu apa Din?”
“Udahlah La, nggak usah sok baik sekarang sama aku. Sudah kebongkar semua keburukanmu. Nggak ada kata sahabat lagi diantara kita.” Nadin meninggalkan Darla dengan sejuta tanda tanya di benak.

Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka Darla pun tak tahu. Padahal baru kemaren mereka menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan memang Nadin yang curhat tentang kekasihnya tapi kemarin Nadin baru saja putus. Ia masih sangat teringat perkataan Nadin, “Aku nggak akan sedih sedih lagi karena putus cinta La, ada kamu yang selalu ada buat aku. Nggak guna nagisin laki laki. Ya nggak?” Kemudian Nadin tertawa renyah, saat itulah Darla merasa terenyuh dengan perkataan Nadin yang masih sangat kekanak kanakan itu.

Mereka bersahabat memang masih sekitar satu tahun ketika Ayah Nadin dipindahtugaskan dan ia sekeluarga harus tinggal di daerah baru. Darla bertemu Nadin ketika mereka ada dalam satu ruangan kursus bahasa Inggris. Tapi semenjak itu mereka seperti kakak beradik yang tak terpisahkan bahkan banyak teman mereka dan banyak orang mengatakan bahwa mereka kembar. Ada yang berkata “Kalau ada Nadin pasti ada Darla” dan sebaliknya.

******

Nadin tak percaya dengan kenyataan bahwa sahabat yang selalu mengalah untuknya itu ternyata menghianati dia. Nadin tak mau percaya memang tapi apa
yang didengarnya terlalu merobek hati dan menyulut emosi. Nadin diam di kamar, tugas tugas dari sekolah tak mampu ia kerjakan. Pikirannya melayang, ia tak ingin bertengkar dengan Darla.

“Nadin......Nadin....” bundanya menggedor pintu kamar tak sabar.
“Iya Bun.” Nadin membuka pintu kamar dan langsung terkejut ketika bundanya tergeletak di lantai sambil menangis histeris.
“Bun, bunda kenapa?”
“Din...Din....” Bundanya masih terisak.
“Bunda tenang dulu, ada apa?” Nadin mulai gelisah, ada perasaan tak enak meraup.
“Ayah Din, Ayah....”
“Ayah kenapa bun?”
“Ayahmu, ayah tertembak malam ini.”

Seketika, tubuh Nadin ikut lemas. Ia terkulai bersandar di dinding.

*****

“Ngapain kamu kesini? Puas lihat aku sedih?”
“Din, sedikit pun aku nggak pernah ada maksud nyakitin kamu. Apalagi senang lihat kamu bersedih.”
“Nggak usah alasan, pergi sana.”
“Aku cuma mau kasih ini, aku turut berduka cita atas ayahmu. Aku minta maaf jika aku banyak salah padamu.” Darla memberikan sebuah kaset VCD kemudian pergi.

Sebenarnya enggan untuk memutar dan melihat isi VCD itu tapi rasa penasaran Nadin tak dapat terbendung.

“Din, aku minta maaf jika ada salah ke kamu. Jujur aku nggak tahu sebenarnya yang terjadi diantara kita. Aku mencoba menelusuri apa yang salah dan ternyata aku tahu bahwa ada orang yang tak suka dengan persahabatan kita kemudian memfitnahku dengan berbicara tak sesungguhnya padamu. Aku benar benar tak pernah melakukan apa yang kau dengar dari orang orang itu Din. Aku sayang kamu, nggak tega dan nggak mungkin aku nyakitin perasaan kamu. Aku minta maaf. Aku berbela sungkawa atas kepergian ayahmu. Sepertinya kita senasib, ayahku juga turut tewas dalam baku tembak yang sama. Aku dengar ayahku sempat menyelamatkan ayahmu tapi mereka berdua mungkin sama sama ditakdirkan bersama di surga. Maafkan aku Din.”

Air mata Nadin berderai tak tertahan, penyesalan merasuki pembuluh darahnya. Dadanya sesak, sulit bernapas. Ternyata bukan hanya dia yang merasakan kepiluan, tetapi Darla juga. Mungkin mereka memang senasib sepenanggungan.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Kesadaran Cinta

Kesadaran Cinta

“Baik, nanti saya tunggu proposal anda. Setelah cukup bagus dan menarik saya akan segera tanda tangani untuk bekerja dengan perusahaan anda.”
“Baik pak, terima kasih.” Pemuda berdasi itu menjabat tangan Ramlan, Ramlan menerimanya dengan satu ayunan mantap.

Setelah tamunya pergi Ramlan segera sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya. Tak akan ada waktu terbuang percuma baginya, waktu adalah barang berharga yang tak mau ia sia-siakan.

Tok Tok Tok...

“Maaf Pak, ada yang ingin bertemu.” Seorang perempuan cantik dengan baju sangat rapi masuk ruang kerja Ramlan.
“Siapa Rin?” Ramlan tak beralih pandang sedikit pun dari layar laptopnya.
“Mbak Kesya Pak.”
“Oh, iya persilakan masuk saja.” Ramlan masih sibuk dengan ketikan di laptopnya.

Sesaat kemudian perempuan bernama Kesya itu memasuki ruang kerja Ramlan dengan gaun berwarna biru.

“Hai, sayang...masih sibuk?” Kesya menghampiri Ramlan yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
“Kamu kok nggak bilang mau datang.”
“Aku sudah kirim pesan, sudah aku telepon juga nggak diangkat kan.”
“Oh, iyakah? Maaf aku tadi ketemu client.”
“Kamu sibuk banget sih, luangin waktu sedikitlah. Nanti malam kan acara ulang tahun mama kamu.”
“Kamu sendiri nggak sibuk? Tabloid kamu apa kabarnya?”

Kesya duduk di sofa warna hitam yang terletak di samping kanan meja kerja Ramlan, “Tabloid aku makin melejit sih sekarang, tugas tugasku juga sudah tuntas kemaren.”

“Oh, baguslah kalau begitu.”
“Ram, segitu cintanya banget ya sama laptop? Sampai ngobrol sama aku aja kamu masih nggak lepas pandang dari laptopmu itu.” Kesya mulai sebal.
“Aku lagi sibuk sayang, nanti kita bahas lagi ya. Kamu mau nungguin disini juga boleh tapi jangan berisik.”
“Ih, kamu tuh ya. Kerjaan melulu yang diurusin.”

******

Hampir pukul delapan malam, Ramlan masih berkutat dengan pekerjaannya. Banyak orang yang harus ia temui hari ini, ada rapat penting juga yang harus ia hadiri. Kesya akhirnya memutuskan untuk pulang dari kantornya. Sesaat setelah itu Ramlan sudah melupakan perbincangannya dengan Keyla. Berulang kali telponnya berdering, ada banyak pesan pula masuk di ponselnya. Tapi Ramlan masih saja tak mau beranjak dari laporan laporan hasil kerjanya. Ia berpikir pasti Kekasihnya Kesya yang melakukan panggilan atau mengirim pesan.

Tiba-tiba kepala Ramlan berdenyut, sakit kepalanya kambuh lagi. Kemudian sesak napasnya segera menyusul. Dadanya sesak. Laptop di hadapannya ditinggalkan juga, ia mencari obat yang ia pikir ada di tas atau meja kantornya. Tetapi nihil, tak ada sebutir obat pun disana. Ramlan terduduk di sofa kantornya, ia ingin meraih ponselnya tapi ia sudah terlalu payah. Akhirnya ia pasrah.

“Sayang, kamu nggak apa apa?”

Pandangan Ramlan mengabur, tapi ia masih mendengar suara samar samar.

“Tolong bawakan ini nak Kesya.”
“Ia Ma.”
“Ramlan, kamu kebiasaan. Penyakitmu kambuh lagi karena terlalu memforsir tenaga.”

Ramlan merasakan pelukan hangat di tubuhnya, inhaler terpasang di mulutnya. Napasnya perlahan stabil, pandangannya mulai jelas memandang siapa saja yang ada di ruangan itu.

“Mama...”

Mamanya tersenyum, guratan keriput di wajah rentanya masih menghangatkan Ramlan.

“Sayang, kamu itu ya. Sudah berkali kali aku hubungi. Acara makan malam ulang tahun mama gagal gara gara kamu sibuk aja sendiri.” Kesya menemani Mama Ramlan yang bersikeras ke kantor anaknya malam malam dan tidak memedulikan ulang tahunnya.
“Maaf, Ma, Selamat ulang tahun ya.”
“Iya nggak apa apa nak.” Mama Ramlan membelai rambutnya.
“Sayang, mama kamu sangat sayang sama kamu. Setidaknya ingatlah bahwa kamu sampai seperti ini, sukses dan jadi pengusaha muda adalah karena kasih sayang seorang mama. Janganlah kamu merasa hebat sendiri, luangkan waktumu untuk orang orang yang mencintaimu.” Kesya berkata sambil berkaca kaca. Selama menjadi kekasih Ramlan, Kesya tahu betul sikap Ramlan yang workaholic sampai mengabaikan keluarganya.

Ramlan membisu dan dengan cepat memeluk mamanya. Malam itu mereka merayakan kebahagiaan penuh kesadaran cinta.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Sunday, October 11, 2015

Sebelum Pergi

Sebelum Pergi

“Sudah kamu persiapkan semua Qi?” Dara sibuk merapikan baju dan beberapa barang di tas Riqi.
“Emm...map mapku udah aku masukkan semua belum ya?” Riqi berdiam sejenak sambil mengingat.
“Map map buat penelitian disana?”

Riqi mengangguk dan melangkah menuju meja belajarnya untuk mencoba mengecheck kembali berkas berkas yang ia perlukan.

“Ehm...hey hey ini...” Dara mengangkat map map warna biru itu di tangan kanannya.
“Ah, iya itu. Kok kamu tahu sih Ra?”
“Apa sih yang nggak aku tahu tentang kamu Qi.” Dara tersenyum jahil

Riqi tiba tiba terdiam dan raut mukanya berubah sedikit menegang. Ia melamun sesaat, ‘kamu nggak tahu Ra, sebenarnya aku ingin kamu mencegah kepergianku tapi kamu malah sibuk meyiapkan semuanya untukku.”

“Hey, kok malah bengong sih. Ayo rapiin lagi itu barang barangmu.” Dara menyenggol lengan Riqi.
“Ah, iya iya.” Riqi kembali tenggelam mengemasi beberapa barang yang akan ia bawa ke negeri seberang.
“Dara, Riqi, ayo makan siang dulu sebelum berangkat ke bandara.” Mama Riqi masuk ke kamar dan mengajak mereka segera menuju ruang makan.
“Oh, iya tante. Terima kasih.”
“Duh, Dara baik sekali sih bantuin Riqi sampai repot repot ikut packing begini.”
“Ya kan kapan lagi bantuin Riqi tante, biasanya aku yang ngerepotin. Sekarang saatnya aku bantu Riqi kan dia sebentar lagi hijrah ke negeri orang.”

Mama Riqi tersenyum melihat tingkah Dara yang sangat bersemangat lalu meninggalkan mereka. Sedang Riqi kembali melamun, ia berusaha menepis segala pikirannya yang kacau.

“Qi, ayo makan dulu yuk. Masa’ kamu kelaparan nanti pas perjalanan.”
“Bentar lagi ya Ra.” Riqi menyibukkan diri dengan mengemas beberapa peralatan mandi.
“Kamu ngapain sih bongkar bongkar itu lagi kan udah aku beresin tinggal masukin.”
“Oh, iya.” Kemudian Riqi sibuk beralih merapikan buku bukunya.
“Qi, ayolah. Aku sudah rapikan semua. Ayo makan dulu.” Dara menyeret tangan Riqi

Tanpa sengaja ada beberapa lembar kertas berjatuhan dari selipan buku yang dipegang Riqi.

“Tuh kan Qi, berantakan lagi. Kamu itu ya....” Tiba tiba ucapan Dara tercekat ketika membereskan kertas yang berjatuhan itu dan membacanya.
“Qi, kamu....” Raut wajah Dara penuh tanya.
“Ra, kamu rela aku pergi ke luar negeri? Kamu nggak berat aku pergi kesana? Kita udah sama sama lama banget Ra. Kamu nggak merasa kalau aku, kalau aku....”

Seketika hening

“Aku sayang kamu Ra...bukan sebagai sahabat.”

Lalu waktu terasa terhenti dan mereka tersekap pada degup jantung masing masing.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Terlambat Menyelematkan Hati

Terlambat Menyelematkan Hati

“Maaf, aku minta maaf...” Angin masih berderu dan mendung mulai mengangkasa.
“Minta maaf dan memaafkan itu mudah tapi melupakannya yang susah.” Kau masih dengan muka yang dingin.
“Lalu, bagaimana selanjutnya?” Nada bicaraku mulai menurun dan terdengar sedikit memelas.
“Bagaimana? Aku juga nggak tahu.” Lalu kau diam, angin mulai berhembus tapi bagiku udaranya menyesakkan.

Kita masih diam saja di sebuah balkon yang pandangannya mampu menembus angkasa sedang penyeselanku tak mampu menembus kesempatan untukku. Kemudian kau menjabarkan bagaimana sikap tak menyenangkanku melukai hatimu. Sebenarnya ingin kusangkali bahwa apa yang kau utarakan adalah yang tak kau tahu dibalik itu semua. Namun percuma saja, aku adalah yang selalu tak mampu berkata kata sepenuhnya ketika bersamamu. Rasanya cukup dan nyaman aku berada di sisimu meski tanpa saling berbicara.

“Baiklah, aku memang salah. Aku terlambat mengetahui kesalahanku sebelum kau jabarkan semua.” Akhirnya aku menyerah, aku mengaku kalah. Tapi aku tak ingin hubunganku dengannya jadi pasrah. Aku masih ingin memperbaiki semuanya.
“Lalu?”
“Kalau kau memang ingin menyudahi segalanya aku terima.”
“Sebenarnya aku....”
“Hey sayang, masih lama ya?”

Aku terkejut melihat sosok perempuan yang tak asing lagi bagiku.

“Eh, iya. Maaf.” Pandangan yang dingin dan menusukku berubah sekejap ketika melihat perempuan itu, begitu teduh. Sama saat kau menatapku waktu pertama kali kita bertemu.
“Masih lama ya?” Perempuan itu menggelayut di lenganmu, seketika itu pula hatiku remuk.
“Maaf Dar, aku balikan sama dia. Kita sudahi saja ya.” Kau tak menunggu jawabanku dan begitu saja berlalu meninggalkanku beku.

Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mataku. Jadi selama ini dia telah kembali pada pelukan mantan kekasihnya. Ternyata bukan hanya terlambat mengetahui kesalahanku tapi aku juga terlambat menyelamatkan hatiku darimu yang hanya seorang penipu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Friday, October 9, 2015

Maafkan Keterlambatanku

Maafkan Keterlambatanku

Untukmu,

Hay, apa kabar kau (nanti) ? Bukankah pada setiap surat selalu menanyakan bagaimana kabar? Mengapa kutulis nanti? Karena aku tak akan pernah lagi tahu kabarmu setiap hari. Ya, aku pun baru saja mampu menulis surat untukmu saat ini karena sebelum ini ada gejolak batin dan pikiran bahkan aku tak terdaftar seperti pengirim surat cinta lainnya. Mungkin aku selundupan, tapi apapunlah itu yang penting aku ingin menuliskan surat untukmu.

Kekasih, (apa masih boleh aku menyebutmu kekasih?) malam ini saat hati yang dulu jatuh karena cinta telah jatuh lagi dan kini ia patah. Ya, maafkan untuk keterlambatanku. Keterlambatan untuk memahamimu, keterlambatan untuk mengetahui kesalahanku yang terlampau menyakiti hatimu, dan maafkan untuk segala apa apa yang belum bisa aku berikan padamu. Aku tak mampu melerai perasaanku sendiri. Kali ini pada musim yang sama segala bahagia yang pernah ada perlahan sirna bersamaan dengan lara yang menyeruak masuk dalam duka. Oh, kekasih biarkan aku lancang mencintaimu kembali sekalipun kau sudah tak sudi peduli. Maafkan jika tanpa sadar aku melukaimu dengan diam dan bungkamku itu.

Aku akan memberitahumu, surat ini sangat berantakan sekali. Berulang kali aku menghapus banyak kalimat, sering sekali aku tertegun beberapa detik untuk mengingkari apa yang telah terjadi, dan aku masih berani menguraimu dalam hati ketika garis merah di hatimu telah aku langgar kemudian usai sudah segalanya.

Malam ini lagu dari Bruno Mars yang dicover oleh Boyce Avenue ft. Fifth Harmony kuputar berkali kali. Lagu ini berjudul “When I was Your Man” ah, mungkin yang tepat untukku adalah “When I was Your Girl”. Memang tak sepenuhnya lirik di lagu itu menggambarkan bagaimana kita tapi ada beberapa lirik yang membuatku ditampar nestapa. Hingga di jalanan yang basah oleh guyuran hujan akhirnya tangisku pecah juga padahal dengan sekuat tenaga kutahankan bulir bulir air mata dan meyakinkan diri bahwa aku kuat menghadapi ini. Masih banyak sesungguhnya yang ingin kuutarakan padamu melalui surat ini namun....ah, sudahlah cukup sekilas saja nanti kau muak jika terlalu banyak membaca tulisanku yang tak beraturan ini.

Kekasih, maaf jika surat ini nanti hanya sampai padamu berupa doa dengan alamat bertulis namamu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Thursday, October 8, 2015

Maafkan Kebungkamanku

Maafkan Kebungkamanku

Sore ini jalanan basah terguyur air angkasa yang memendungkan awan. Aku tak kuasa menahan sesak di dada, sudah berulang kali aku meyakinkan diri bahwa aku baik baik saja dengan keadaan ini tapi perasaan yang kemalut ini tak mampu menyangkali.

"Ris, pakai jas hujan ta?" Kartika di depan kemudi sepeda motor
"Ris!"

Mataku yang memanas lalu terkesiap

"Kenapa?" Tanyaku pada Kartika
"Hujan nih pakai jas hujan ta?" Kartika sedikit mengeraskan suaranya.
"Iya udah." Aku hanya menjawab singkat.

Mungkin kepalaku perlu diguyur hujan sebab penat semakin membabi buta, liburan di kota yang mampu memberi kesejukan nyatanya tak mampu mengusir pikiranku atas dirimu. Seharusnya aku juga membiarkan badanku hujan hujan lalu kutadah air angkasa itu di kelopak mataku yang terbuka agar tak semakin memanas atau hanya sekadar menyembunyikan tangis yang
mungkin sewaktu waktu pecah diperjalanan.

"Ini gimana tasnya?" Kartika sibuk meletakkan tas tas ke trotoar tempat kita menepi.
"Kamu pakai jas hujannya dulu aja." Aku memberikan jas hujan yang sudah siap pakai kepada Kartika kemudian dengan pikiran buyar aku membenahi tas tas yang kami bawa saat liburan. Untung saja tas tas itu tak ikut berantakan.
"Udah ya, naik gih." Kartika sudah berada di depan kemudi kembali.

Aku bergegas naik ke sepeda motor dengan tas dipunggungku dan dua tas selempang salah satunya berisi kamera SLR. Bajuku sudah mulai basah sebenarnya namun aku acuh saja. Kartika mengemudi dengan cukup kencang meski aspal tak semuanya mulus, pun licin oleh air hujan. Mungkin tak semulus perasaanku pula kepadamu kekasihku dan licin sekali rasanya mengerti jalan pikiranmu. Aku tak paham sampai saat ini mengapa kita berdua diam. Pesan yang kukirimkan padamu seakan abai saja bagimu. Entah kau sibuk atau memang tak ingin membalasnya. Seorang sahabat menyarankanku untuk meneleponmu. Kekasihku, aku tak seberani itu. Mendengar suaramu? Bahkan menatap mata yang teduh itu segalanya seakan luruh. Bagaimana jika nanti aku tak sanggup berbicara di ujung telepon? Bagaimana nanti kau menolak panggilanku dengan berdalih 'nanti saja' atau 'aku masih sibuk'?  Lebih baik kau mereject telponku saja kalau begitu.
Kekasihku, aku tak memilik banyak upaya untuk mencintaimu. Mampu menyayangi seorang lelaki sekali lagi pun sudah anugerah bagiku setelah sekian lama hatiku beku oleh trauma masa lalu. Mengenalmu sudah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga dalam hidupku apalagi aku bisa mendengar kau bercerita tentang hidupmu, berbagi tawa bersama. Aku terlampau beruntung mungkin, Tuhan sungguh baik padaku aku sangat bersyukur.

Apakah kau sedang membalas kebungkamanku waktu itu? Aku diam tak berkata sedikit pun di perjalanan menuju pulang bersamamu. Bahkan berpaling tak menoleh padamu yang sedang mengemudi.

Sampailah aku pada pengantaranmu waktu itu, aku melihat dari sudut mataku kau seperti enggan berbicara kepadaku. Tak ada ucap perpisahan yang hangat malam itu, tak seperti biasanya kita saling melepas dalam senyuman. Kala itu terasa begitu hambar dan cukup menyakitkan untukku.

Maafkan aku kekasihku, aku pun tak mengerti mengapa aku senang sekali mememdam apa apa yang kurasa dan memilih diam saja sampai mimpi melahap habis perasaanku itu dan akhirnya aku terlupa dengan sendirinya. Maafkan aku kekasihku, aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman.

"Ris, udah nggak hujan. Kamu buka aja jas hujannya." Renunganku buyar dari balik jas hujan yang mengkungkungku dalam pengan dan kenangan bersamamu yang singkat. Lalu aku menyingkap jas hujan. Aku lihat jalanan masih basah, di samping kanan kiri berulang kali ada bayanganmu muncul dimana mana. Bahkan warna mobilmu kuning pastel itu tercat mirip pada beberapa mobil yang kutemui. Oh kekasihku, aku semakin tersiksa dengan ini semua. Ingin rasanya aku menangis dan berteriak saat itu juga.

Aku berharap setelah sampai di rumah kau membalas pesanku, aku masih menunggumu. Namun tak ada sedikit pun kabar darimu. Apa yang kalian rasa ketika balasan dari orang yang kau sayang tak juga dibalas? Padahal kalian merasa sudah menyibukkan diri melumatkan waktu.Berkali kali menengok BB saat Lednya menyala dan sangat berharap bahwa itu adalah balasan dari orang yang kau sayang. Lalu kau menghempaskan BBmu begitu saja ketika pesan yang kalian terima bukan darinya. Aku seakan dipermainkan bunyi ringtone yang bukan dari kamu. Kekasihku, aku rindu.

Kekasihku, maafkan aku atas segala kebungkamanku, harusnya aku berusaha lebih keras untuk tak diam saja saat bersamamu. Aku mohon maafkan kebungkamanku. Berilah aku sedikit kabarmu atau kau ingin memaki atau memarahiku sejadi jadinya karena sikapku. Silakan kekasih, apapun itu balaslah pesanku. Robek saling diam diantara kita. Maafkan kebungkamanku kasih.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...

Tuesday, October 6, 2015

Album Hitam

Album Hitam

Aku masih memandangi deretan album hitam di tanganku. Tidak, bukan album kematian, bukan album yang menyeramkan meskipun covernya berwarna hitam. Namun album ini adalah album penuh kenangan bersama seseorang yang kini entah dimana keberadaannya.

“Dhar, kamu itu kebiasaan deh fotoin aku tanpa bilang bilang dulu.”

Dia masih asyik dengan kameranya itu, lensanya diputar putar berulang kali untuk mendapatkan fokus paling bagus. Aku tak mengerti mengapa ia senang sekali memotretku dengan tiba tiba seperti itu, jangankan berpose atau tersenyum ketika dia memotretku, menoleh pun aku tak mampu. Dia sangat lihai sekali dengan salah satu tombol yang begitu cepat saat membidik, hanya sekali klik.

“Yang natural lebih maksimal.”

Begitu katamu berulang kali ketika aku mengomel kepadamu karena dia memotretku dengan seenaknya sendiri. Terkadang aku heran, mengapa ia menjadikanku objek kameranya padahal aku tahu benar seleranya adalah memotret pemandangan alam ataupun benda benda mati yang tak bergerak. Apakah aku termasuk benda mati menurutnya?

Segerombolan tanya masih saja berkeliaran di pikiranku tentang alasan mengapa kau pergi dengan tiba tiba, bersamaan dengan itu aku kenangan waktu kita bersama juga terbersit begitu jelas diingatanku. Bukankah kepergian dariku tidak termasuk ke dalam cita cita besarmu itu Dhar? Tanya masih saja tak menemukan jawaban dan aku masih sibuk membuka halaman demi halaman album hitam yang kau sembunyikan di almarimu. Maaf jika aku lancang membukanya, namun mamamu dengan sengaja memberikan album hitam ini padaku. Dan saat ini album hitam di tanganku ini menjadi saksi bisu kenyataan yang kau sembunyikan pula dariku bertahun tahun.

Sebuah foto ketika aku tertidur di rumah sakit dengan sebuah note “Cepat sembuh peri kecilku, jangan pernah sakit lagi ya.” Halaman berikutnya ada fotoku yang asik mengupas kentang saat memasak dengan mamamu untuk makan malam di hari ulang tahunmu dengan note “Peri kecilku sedang memasak untuk pesta sederhana di ulang tahunku, aku berharap kelak masakannya yang selalu menjadi makananku.” Masih banyak foto foto yang tak ku ketahui kapan kau mengambilnya dan semuanya tentang aku. Dhar, apa sebenarnya ini?

Dan salah satu yang membuatku memecahkan tangis di kelopak mataku. Fotoku bersamamu ketika kita wisuda dan di sebelahnya terdapat gambar bunga sakura, aku mengambil foto itu dengan isak tanpa suara. Ternyata di baliknya kau tertulis kalimat, “Berbahagialah di negeri sakura peri kecilku, maaf jika selama ini aku terlampau selalu ingin bersamamu. Iya, aku hanya ingin kau tahu bahwa kau adalah yang berharga untukku” Aku tersedu, Dharma sahabatku nyatanya telah memendam rasa cinta padaku selama itu. Sedang kepulanganku kembali adalah untuk menyalami kepergiannya dari sisiku. Sesungguhnya aku pun ingin selalu bersamamu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Continue reading...